Dugaan Penipuan, Alasan Covid-19 Pelaku Ingkar

oleh -84 views

PALAS– FNN, pelaku dugaan penipuan terhadap sejumlah orang mengaku headline pembayaran tertanggal 16 Mei tidak terpenuhi. FNN mengingkari janji perdamaian terkait pembayaran itu dengan alasan masa pandemi covid-19 yang saat ini dihadapi.

Selasa (19/5), FNN yang juga ketua ormas Masyarakat Pancasila Indonesia (MPI) Kabupaten Palas ini mengaku akan membayar uang yang sudah diterima kepada masing-masing korban.

Dan sesuai kesepakatan di kantor Notaris Rahma Yanti SH MKn, pihak FNN cs siap membayar tertanggal 16 Mei 2020. Namun hingga batas waktu tersebut, pembayaran tak kunjung ada. Alasannya masa pandemi. “Iya, kita sudah berjanji akan membayar itu tanggal 16 Mei yang udah lewat. Tapi gimanalah masa ini kan pandemi,” kata FNN saat dikonfirmasi.

FNN juga tak bisa memastikan kapan pembayaran akan dilakukan. Lagi-lagi alasan pandemi Covid-19 ini jadi alasan ingkar dari perjanjian.“Gimanalah, ini kan masih covid,” tandas FNN.

Sementara Yusuf Azhari menyebutkan alasan itu sengaja dibuat-buat. Sebab, sedari awal kesepakatan kedua belah pihak dibangun di bulan April, juga masa pandemi. Disitu pelaku FNN mengaku siap akan mengembalikan uang yang sudah diterima dari tiap korban.

Namun sampai saat ini janji tinggal janji. Lebih dari itu, persoalan yang bergulir sejak November 2018 ini, juga sudah bolak balik berdamai. Dan FNN mangaku akan mengembalikan uang korban. Namun selalu ingkar.

Bahkan para korban juga tidak mau tahu lagi kelanjutan bisnis kerja sama pembentukan agen Gas di Palas itu, inti awal permasalahan tersebut.

“Yang jelas uang kami kembali, kami tidak mau tahu lagi usaha bisnis itu bagaimana. Dan ini sudah dilaporkan ke polisi, laporannya jalan di tempat. Lalu berdamai dimediasi waka polres, itu pun diingkari. Kami akan tuntut terus hak kami ini,” tegas Yusuf Azhari.

Sebelumnya diberitakan kasus dugaan penipuan di polsek barumun jalan ditempat. Sebab sejak dilaporkan 26 Desember 2019 lalu, hingga kini belum ada tanda-tanda tindak lanjut kasus penipuan yang dilaporkan ke Polsek Barumun. Yusuf Azhari, selaku pelapor menduga kasus ini mandek.

Kepada Metro Tabagsel belum lama ini, Yusuf Azhari dan Syarif Hidayatullah selaku korban penipuan atas FNN menyebutkan awal terjadi tindak pidana penipuan tersebut. Berawal dari kesepakatan kerja sama pembentukan agen gas di Kabupaten Palas.

FNN dan kroninya merekrut sejumlah investor lokal (korban, red) guna kerja sama tersebut. Ada belasan orang yang andil dalam kerja sama yang disepakati. Masing-masing menginvestasikan dana bervariasi. Mulai Rp35-Rp70 Juta.

Penyerahan uang dilakukan November 2018 di kantor notaris Rahma Yanti SH MKn yang beralamat di jalan KH Dewantara lingkungan VI Padang Luar Sibuhuan.

Namun hingga setahun berlalu, bisnis kerja sama yang di angan-angankan tak kunjung ada. Kejelasan dana keseluruhan diperkirakan Rp700 juta, yang sudah diserahkan kepada FNN juga semakin keruh.

Seiring bergulirnya waktu, korban dan pelaku sepakat berdamai. Hingga akhirnya dipertemukan kembali yang turut dimediasi dan dihadiri wakapolres Palas Kompol Kuto Pulungan di kantor notaris Rahma Yanti SH MKn.

Disitu pelaku FNN sepakat akan mengembalikan dana masing-masing korban. Namun hingga deadline yang ditentukan, tak kunjung ada pengembalian dana dari pelaku kepada korban.

Sebelumnya kasus ini telah sampai ke meja Polsek Barumun. Yusuf Azhari resmi melaporkan tindak penipuan ini tertanggal 26 Desember 2019 lalu.

Hanya saja pelapor menduga laporan ke polisi itu mandek. “Sebab, sampai detik ini belum ada kejelasan bagaimana perkembangannya, uang kami tak kembali, yang bersangkutan (pelaku, red) pun santai,” kata Yusuf Azhari dan Syarif Hidayatullah.

Kapolsek Barumun AKP Suprihanto melalui Kanit Reskrim Aiptu Saiful Bahri mengaku telah berkoordinasi dengan Kasat Reskrim Polres Palas guna menyurati kantor notaris di Medan. Tujuannya agar pihak kepolisian bisa memanggil dan memeriksa notaris Rahma Yanti. Hanya saja belum ada kepastian akan tindakan tersebut.

“Sudah saya koordinasikan itu ke kasat supaya disurati, tapi entah udah gimana belum tahu,” kata Saiful yang mengaku LP itu terjadi sebelum dia menjabat kanit.

Sementara Waka Polres Palas Kompol Kuto Pulungan yang dikonfirmasi juga membenarkan turut hadir di notaris Rahma Yanti SH MKn memediasi kedua belah pihak beberapa waktu lalu. Dan disitu terbangun kesepakatan agar pelaku membayar dana tersebut kepada para korban. Hanya saja, alasan pandemi jadi kendala pembayaran tak dilakukan sampai melewati batas deadline yang ditentukan. “Iya, saya hadir di situ. Belum selesai karena saat ini corona,” tukas Kompol Kuto.(red

example banner

This site is using SEO Baclinks plugin created by Locco.Ro