Dugaan Korupsi di SMA Negeri-1 Bandar Mencapai Rp3 Miliar?

  • Bagikan

SIMALUNGUN | MU –Institution Law And Justice (ILAJ) merilis. Terdapat dugaan korupsi di SMA Negeri 1 Kecamatan Bandar Kabupaten Simalungun, hingga menyentuh angka Rp3 miliar. 

Dalam surat elektroniknya kepada posmetromedan.co.id, Ketua ILAJ, Fawer Full Fander Sihite, menguraikan satu persatu dugaan korupsi yang diduga keras melibatkan pengurus komite dan Kepala SMA Negeri 1 Bandar, Mariani Samosir.

Di antaranya; kutipan berkedok sumbangan sukarela dari orang tua siswa. Konyolnya, sumbangan yang dikuatkan dengan surat edaran komite, tidak membatasi jumlah besarnya sumbangan. Namun, mematok minimal di angka Rp50 ribu persiswa. 

“Yang menjadi permasalahan mengapa ditentukan minimal Rp50 ribu persiswa? Inikan artinya merupakan ketentuan yang mengikat. Padahal sifatnya sukarela dan sesuai dengan kemampuan orang tua siswa,” tegas Fawer.

Selain itu, mantan Ketua GMKI Siantar-Simalungun, ini juga membongkar kutipan uang parkir sepeda motor siswa yang mencapai Rp200-400 ribu perhari. “Sudah berlangsung sejak 25 September 2017 hingga sekarang. Kasek juga mengutip uang rapor persiswa sebesar Rp50 ribu di semester 1 kelas sejak tahun 2016. Padahal biaya pengadaan rapor ditampung dalam dana BOS. Sesuai Permendikbud No 26 Tahun 2017 Bab V Poin 5a,” terang  tokoh pemuda ini.

Tak cukup di situ. Fawer juga menemukan pengeluaran uang bersumber dari dana BOS tahun 2017/2018, untuk memenuhi gaji 18 Guru Honor (GTT) dan 8 pegawai yang termyata tak disalurkan pada penerima. “Uang untuk gaji tersebut tidak diterma yang bersangkutan,” tambah Fawer yang juga turut mengurai penyimpangan dana pembelian 100 unit komputer sejak tahun 2016 hingga 2018. Di mana, terdapat dabel pendanaan. Didanai BOS dan kutipan uang komite.

Masih dijelaskan Fawer, menurut permendikbud No 26/2017 Bab 1.c.3, disebutkan bahwa setiap siswa SMA mendapat bantuan dari dana BOS sebesar Rp1.400.000. Dengan demikian, SMA Negeri 1 Bandar diperkirakan menerima dana BOS sekitar lebih kurang Rp1.443.400.000 (dengan jumlah siswa 1031) untuk tahun pelajaran 2016/2017. Sedangkan pada tahun pelajaran 2017/2018, penerimaan meningkat hingga mencapai Rp1.586.200.000, untuk 1.133 siswa/siswi yang terdaftar.

Terakhir, Fawer memastikan bahwa perhitungan pihaknya, terdapat dugaan korupsi yang telah terjadi mencapai Rp3 miliar. Karena itu, pihaknya telah melapor ke Polres Simalungun. Laporan Nomor: 015/SP/B-EKS/X/2018, itu ditujukan langsung kepada Kapolres Simalungun Cq Kanit Tipikor. Bahkan Polres Simalungun telah membalas surat laporan ILAJ pada Kamis (25/10/2018) nomor B.291/X/2018/Reskrim, yang menyatakan telah memulai penyelidikan. “Agar proses hukum dapat berjalan lancar, kita juga mendesak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumut, segera mencopot kepala sekolah. Kita berharap, masalah seperti ini tak terjadi lagi di kemudian hari,” tutup Fawer.

Sementara Kepala UPT Disdik Sumut,  wilayah Siantar-Simalungun, Darwin Purba, belum mau memberikan sikap tegas. “Aku pelajari dulu bang dan berkoordinasi dengan tim manejemen bos provinsi. Tks bang,” tulis Darwin dalam pesan Whats App nya kepada posmetromedan.co.id.  (Rel/ung)

  • Bagikan