Dipikul Terus

oleh -494 views

Wak Labu terus didera masalah yang bikin sakit kepala. Beban persoalan terus memberatkannya, sampai-sampai ingin saja rasanya ia pergi meninggakan kota dan meletakkan semua tanggungjawabnya. Namun dikarenakan alasan keluarga yang tak mungkin ditinggal, mengharuskan
Wak Labu harus tetap bertahan.

Lae Gortik yang membuat Wak Labu tak enak makan dan tak nyenyak tidur, belum juga mau diajak berdamai. Orang-orang dekat Wak Labu yang selama ini diharap bisa membantu meringankan beban masalah itu, tanpa sepengetahuannya justru menikam dari belakang dengan cara memanas-manasi Lae Gortik. Satu ketika, tak disangka, Wak Labu bertemu Lae Gortik di pasar. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Wak Labu langsung mengajak Lae Gortik berdamai.

Wak Labu : Lae…. apa kabar?.
Lae Gortik : Sehat..-sambil senyum dikit dan cepat memalingkan wajah dari Wak Labu-sehat aja kok.
Wak Labu : Kenapalah kau tak mau berdamai samaku Lae. Sudah berat kali beban masalahku ini Lae. Tak ada yang mau membantuku membujuk kau Lae.
Lae Gortik : Aku sih mau saja berdamai. Karena damai itu indah.
Wak Labu : (sambil senyum karena merasa ada peluang)trus… kapan kita buat acara pesta meja perdamaian kita Lae Gortik temanku yang baik hati?
Lae Gortik : Bah… kenapa kau tanya aku?
Wak Labu : Maksudku, biar kita atur waktunya yang pas Lae.
Lae Gortik : Aku tak bisa jamim soal itu. Karena… -sambil melangkah hendak pergi- kau harus…!
Wak Labu : (penasaran)harus apa Lae Gortik?
Lae Gortik : Karena kau harus minta maaf dulu sama semua kawan-kawanku yang sudah kau sakiti.
Wak Labu : Kalau kau suruh minta maaf. Itu pantanganku. Mendinglah kupikul terus beban masalah ini sampai kapanpun Lae Gortik.
Lae Gortik : (senyum lebar, kemudian berlalu pergi) sedeng! (***)